Friday, 11 July 2014

Deodorant: Pembasmi Bau Badan yang Karsinogen

Hari gini masih bau badan??!!! OMG HELLLLOOOWWWW….!!!
Ga kebayang deh ya, pasti bakal ngeganggu aktivitas sama rutinitas kita. Misalnya lagi jalan sama gebetan dan tiba-tiba muncul bau-bau tak sedap yang merusak suasana. Bisa-bisa calon jodoh yang tadinya 1 meter di depan mata menjauh jadi 500 meter. Hehehe. Nah,
untungnya teknologi begitu cepat memberikan solusi dan pertolongan. Yap, teknologi itu kita sebuat dengan deodorant, solusi yang membantu mengatasi bau badan dengan cara yang sangat mudah dan praktis. Selain itu, deodorant sendiri juga dapat berfungsi sebagai parfum yang membuat tubuh jadi lebih wangi. Berbagai aroma diciptakan untuk membuat orang lebih tertarik dan nyaman memakainya. Akan tetapi dibalik manfaat dari deodorant pernah berhembus kabar bahwa deodorant dapat menyebabkan kanker payudara. Benarkah hal tersebut? Mari kita simak lebih lanjut ulasan berikut ini.

Deodorant merupakan salah satu produk kosmetik yang dipergunakan untuk menghilangkan bau badan dan mengurangi keringat. Pada hasil riset setiap hari orang akan mengeluarkan air sebanyak 650-750 cc melalui transpirasi kulit. Air yang keluar ini akan menguap dan meninggalkan sisa – sisa lemak dikulit sehingga mudah sekali bakteri berkembang biak dan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Keringat mengandung air, garam,dan zat sisa dari dalam tubuh. Mengapa bisa timbul bau yang tidak sedap? Hal tersebut bisa dikarenakan oleh aktivitas bakteri. Bakteri yang seperti apa? Ada dua contoh bakteri yang bisa memungkinkan menjadi penyebab adanya bau badan, yaitu Propionibacteria (bakteri yang hidup di saluran kelenjar sebasea manusia dewasa dan remaja) dan Staphylococcus epidermidis (bakteri yang memberikan bau seperti keju). Kedua bakteri tersebut cukup berperan dalam merusak proteinseus yang dihasilkan oleh kelenjar apokrin.

Semakin banyak keringat yang dihasilkan oleh kelenjar ketiak maka makanan bakteri semakin banyak sehingga bau badan semakin tidak sedap. Penggunaan garam alumunium yang terdapat pada deodorant mampu berperan sebagai antibakteri. Mengapa? Hal ini dikarenakan garam alumunium mampu menghasilkan pH asam dari proses hidrolisi dengan keadaan seperti itu dapat dianggap sebagai salah satu bentuk pertahanan tubuh terhadap bakteri. Sediaan antiperspirant harus berdasarkan hidrolisa garam logam, karena mempunyai efek menghambat bakteri kulit. Pngamatan terhadap efek alumunium sulfat, alumunium khlorhidroksida dan alumunium klorida dengan urea 5% ternyata mempunyai efek baterisida dan bakteriostatik yang sangat kuat. Efek deodorant dengan garam alumunium terjadi dengan dua cara : Aktivitas hambat bakteri yang disebabbkan pH yang relative rendah dan netralisasi bau dengan kombinasi kimia

Ketika dilakukan perbandingan jumlah bakteri pada ketiak yang menggunakan deodorant dan tidak menggunakan deodorant ternyata yang lebih banyak bakterinya adalah yang non deodorant. Mengapa? Karena didalam deodorant terdapat kandungan yang dapat membantu mematikan bakteri dan mampu menahan pertumbuhan bakteri tersebut. Kandungan yang terdapat pada deodorant seperti senyawa – senyawa kimiawi yang terdapat didalamnya, mampu berperan sebagai antibakteri sehingga bakteri seperti propionibacteria dan staphylococcus dapat dikurangi jumlahnya di daerah ketiak. Secara spesifik bakteri pada ketiak memang kurang mampu dijelaskan secara pastinya namun kedua bakteri tadi merupakan contoh dari bakteri yang berperan dalam ketiak yang menyebabkan ketiak mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Deodorant pada umumnya bekerja dengan cara menetralisir dan mencegah bau badan. Salah satu zat yang digunakan adalah senyawa alumunium, di mana ia mempengaruhi kerja kelenjar keringat. Akibat pengaruhnya, produksi keringat menjadi minim dan tidak terlalu banyak, inilah sebabnya aroma badan tetap netral. Dikutip dari India Times, Dr. Sunita mengingatkan bahwa cara kerja senyawa alumunium ini bisa mempengaruhi hormon estrogen dan kelenjar payudara. Pada beberapa kasus, penderita kanker payudara wajib menghindari senyawa alumunium dan paraben agar sel kanker tidak semakin berkembang. Selain itu, ahli kosmetik Dr. Abhijit Desai mengingatkan pula akan kandungan alkohol pada deodorant. Apabila kandungan alkohol pada deodorant terlalu tinggi, bahayanya adalah pada iritasi, kemerahan serta gatal-gatal, bahaya yang bisa langsung dialami tanpa menunggu lama.

Para peneliti telah mempelajari hubungan antara senyawa yang dikeluarkan deodoran yakni paraben dengan kanker payudara. Seperti diketahui, zat pareban banyak digunakan sebagai pengawet untuk membunuh kuman pada kosmetik seperti deodorant atau antiperspirant. Setelah dilakukan penelitian, ternyata paraben sedikit menyerupai fungsi hormon estrogen pada wanita. Sedangkan hormon estrogen sendiri merupakan faktor risiko kanker payudara. Seperti dikutip dari Healthday, dalam penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Applied Toxicology, Darbre dan rekan-rekannya melaporkan bahwa satu atau lebih jenis paraben ditemukan pada 158 dari 160 sampel jaringan tubuh yang diambil dari 40 orang wanita. Peneliti menemukan 96 sampel mengandung lima bentuk ester paraben yang paling umum.

Kata Dr. Philippa Darbre. Kandungan paraben yang tinggi ditemukan pada bagian antara payudara dan ketiak, dan kanker payudara paling sering muncul pada daerah tersebut. Meskipun demikian, Dr Darbre memperingatkan bahwa penelitiannya ini tidak dapat menyiratkan hubungan sebab dan akibat. Sementara itu, Dr. Darbre mengimbau kepada para wanita agar mengurangi atau menghentikan penggunaan produk kosmetik sebanyak mungkin. Karena pihak American Cancer Society tidak menemukan hubungan yang jelas antara deodoran atau antiperspirant dengan kanker payudara. Namun, menurut Dr Michael J. Thun, wakil presiden emeritus epidemiologi dan penelitian surveilans American Cancer Society, fakta bahwa bahan pengawet yang ditemukan pada sebagian besar sampel jaringan payudara tidak dapat disimpulkan bahwa bahan ini benar-benar menyebabkan kanker payudara.

Meskipun belum didapatkan hasil yang valid mengenai pengaruh deodorant dengan kanker payudara, tapi ada baiknya kita tetap waspada. Jadi, apa yang harus kita lakukan? Haruskan pemakaian deodorant kita hentikan? Nah ada baiknya kita beralih pada ramuan tradisional atau menerapkan pola hidup sehat agar keringat dan bau badan tak lagi menjadi penghalang aktivitas sehari-hari. Akan tetapi jika memang pola ideal tersebut belum bisa dilakukan, ya bijaklah dalam menggunakan deodorant ini, tak perlu berlebihan dan jangan terlalu sering menggunakan deodorant.  Pilihlah bahan yang relatif lebih aman, para ahli menyarankan untuk lebih menggunakan deodorant stick ketimbang deodorant roll. Alasannya, kadar alkohol pada deodorant stick lebih rendah ketimbang deodorant roll. Sekalipun aromanya tidak tahan terlalu lama, namun umumnya lebih ramah pada tubuh.
Semoga bermanfaat, Happy Blogging :)


Sumber:
http://www.vemale.com/kesehatan/22312-bahaya-pakai-deodorant-bagi-payudara.html
http://cepatsehatsecara-alami.blogspot.com/2013/07/dampak-negatif-penggunaan-deodorant.html
http://life.viva.co.id/news/read/439636-bahaya-mengintai-dibalik-pemakaian-deodoran-berlebihan
http://fiitriaanggraeni.wordpress.com/2012/11/23/deodorant-vs-non-deodorant-manakah-yang-lebih-banyak-bakterinya/


http://gayahidup.inilah.com/read/detail/1818620/pakai-deodoran-ternyata-bisa-picu-kanker#.U7Z0Y5SSx2k

2 comments:

  1. teriamakasih banyak... ternyata ada dampak burknya ya...

    ReplyDelete
  2. Bau badan muncul biasanya diakibatkan oleh keringat, dari keringat maka muncullah bakteri dan kuman yang akan mengeluarkan bau. Jadi, jaga badan tetap sehat, bebas dari keringat, agar tetap adem.. :)

    ReplyDelete