Sunday, 3 August 2014

Menguap Bisa Menular

Terinspirasi dari sebuah tulisan di salah satu majalah, saya tertarik untuk membahas lebih jauh mengenai fenomena menguap. Menguap disini maksudnya bukan perubahan zat dari cair menjadi gas melainkan menguap yang dalam bahasa inggris kita sebut dengan “yawn”. Ngerti kan? Yang gak ngerti ambil kamus dulu deh, hehehe :p
Apakah Anda pernah melihat seseorang yang menguap, kemudian secara tak sengaja ikut menguap juga? Jika iya, tentunya Anda sepakat dengan kemungkinan bahwa menguap seringkali bisa menular dari satu orang ke orang lain. Saya adalah orang yang sangat mudah tertulari “penyakit” menguap, terutama ketika sedang belajar di kampus. Pada suatu pagi yang cerah, dengan keadaan sehat secara lahir dan bathin, kondisi tubuh fit dan mood sedang normal dengan serius saya memperhatikan penjelasan dosen yang lebih mirip dengan nyanyian nina bobo (pak dosen maafkan mahasiswa mu yang imut ini). Meskipun atmosfer mengantuk sudah mengelilingi kelas, tapi iman saya tidak goyah mata saya masih melotot memandangi slide. Sampai suatu ketika teman disamping saya melakukan aktivitas yang sungguh sangat tidak layak untuk saya saksikan. Yakk dia menguap, menguap begitu saja didepan mata kepala saya sendiri. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian saya sukses tertular menguap, beberapa saat kemudian beberapa teman juga ikut menguap. Lah ini kok semua pada ikutan nguap, akan kah di kelas kami terjadi fenomena menguap masal? :v
Dari kejadian tersebut saya mulai menarik kesimpulan, ternyata menguap tidak selalu disebabkan oleh rasa kantuk dan menguap itu menular! Nah, apakah yang menyebabkan menguap bisa menular? Let’s find out..!!!

Mengapa kita menguap?
Menguap merupakan sebuah refleks dimana kita merenggangkan rahang dengan membuka lebar-lebar mulut dan dengan menarik napas dalam-dalam, serta diikuti dengan mengeluarkan napas pendek. Alasan mengapa kita menguap sendiri masih menjadi misteri yang memiliki banyak teori namun sedikit yang terbukti secara nyata, tapi tidak berarti belum ada penjelasan terkait hal ini. Menguap sendiri tidak hanya dilakukan pada saat kita baru bangun pagi ataupun mengantuk, hal ini juga kemungkin besar dapat terjadi saat kita melihat orang lain menguap. Hal ini juga terlihat pada binatang dan dikatakan bayi dalam janin saja dapat menguap. Ada sebuah teori mengatakan kita menguap karena kita kekurangan oksigen dan dengan menguap maka banyaknya oksigen yang masuk akan membuat kita lebih sadar. Teori yang masuk akal bukan? Namun itu hanyalah mitos dan tidak benar. Masih banyak lagi teori seputar hal ini dimulai dari karena bosan, hingga tubuh yang berusaha membuat paru-paru tetap sehat, namun yang paling baru dan cukup dipercaya adalah berikut ini.
Berdasarkan sebuah hipotesis, alasan sebenarnya adalah karena itu bertindak sebagai pendingin, ini berdasarkan sebuah percobaan kompres panas dan kompres dingin. Mereka yang meletakkan kompres panas di kepala mereka menguap sebanyak 41% kali dibandingkan mereka yang meletakkan kompres dingin hanya 9%. Hipotesis tersebut menyebutkan bahwa otak manusia lebih cepat panas dibandingkan organ lainya, dengan menguap maka udara yang masuk akan membuat tubuh kita mengalami sebuah proses alamiah yang mendorong alur darah ke kepala dan pergantian udara saat kita menarik napas dan mengelauarkannya kembali akan mengubah temperatur aliran darah tersebut menjadi lebih dingin.

Kenapa menguap bisa menular?
Tanpa disadari seringkali saat melihat orang lain menguap akan ikut-ikutan menguap. Bukan karena latah kalau yang melihat ikutan menguap, karena menguap memang bisa menular. Sebuah studi menemukan bahwa saat ditunjukkan video orang lain menguap, sekitar 50% partisipan juga ikut menguap. Uniknya adalah ini juga terjadi pada binatang seperti monyet,baboon, dan yang paling mengagumkan adalah anjing, mereka ditemukan dapat menguap saat mendengar majikan mereka juga menguap.

Selama ini peneliti percaya bahwa orang yang mudah tertular menguap adalah orang yang memiliki empati tinggi. Namun peneliti membantah hal tersebut. Mereka berkeyakinan bahwa orang yang tertular saat melihat orang lain menguap sebenarnya memiliki gelombang emosi yang sama dengan orang tersebut. Peneliti mendokumentasikan dengan baik ketika seseorang merespon dengan cara melihat, mendengar, atau memikirkan tentang orang yang menguap. Menguap yang seperti ini sangat berbeda dengan yang spontan akibat terlalu lelah atau bosan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa menguap yang menular tak berkaitan dengan empati, rasa lelah, energi, dan kecenderungannya menurun dengan bertambahnya usia. Hasil ini didapatkan peneliti setelah mereka mengamati 328 orang sehat yang menguap ketika melihat video orang menguap berdurasi tiga menit. Beberapa partisipan diketahui lebih mudah tertular dan ikut menguap dibandingkan dengan partisipan lainnya, seperti dilansir oleh Health Day News (14/03).

Peneliti menemukan bahwa usia adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk tertular menguap atau tidak. Orang yang lebih tua biasanya lebih sulit untuk tertular ketika melihat orang menguap. Namun usia hanya mempengaruhi sekitar delapan persen kecenderungan orang untuk menguap. "Penelitian ini mengungkap bahwa menguap yang menular sama sekali tak berkaitan dengan empati," ungkap Elizabeth Cirulli dari Duke University School of Medicine. Peneliti juga menemukan bahwa orang yang memiliki autisme dan schizophrenia memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk tertular ketika melihat orang menguap. Sejauh ini mereka mengetahui bahwa menguap berkaitan dengan gelombang emosi yang setara dengan orang lain serta dipengaruhi oleh faktor usia.

Penyebab lain menularnya menguap karena aktifnya sistem saraf cermin (mirror neurons system) yaitu neuron yang terletak di bagian depan setiap belahan otak vertebrata tertentu. Ketika menerima stimulus (rangsangan) dari spesies yang sama, maka spesies tersebut juga akan mengaktifkan daerah yang sama di otak. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akan menguap jika melihat oang lain menguap. Sistem saraf cermin ini bertindak sebagai penggerak untuk meniru dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran manusia. Karenanya menguap sering dianggap sebagai cabang dari impuls (gerakan) tiruan yang sama. Jika pusat dari sistem neuron cermin tidak aktif saat melihat seseorang menguap, maka hal ini tidak akan memiliki hubungan dengan keinginan merespons untuk menguap. Semakin kuat seseorang ingin menguap, maka semakin kuat aktivasi dari bagian otak periamygdalar kiri. Hasil temuan ini merupakan tanda neurofisiologis pertama yang mengungkapkan bahwa menguap bisa menular. Daerah periamygdalar adalah zona yang terletak di samping amigdala dan struktur bentuknya seperti kacang almond yang terletak jauh di dalam otak. Aktivasi beberapa bahan kimia yang ditemukan di otak, misalnya, serotonin, dopamin, glutamin, asam glutamat dan oksida nitrat, dapat pula meningkatkan frekuensi menguap. Sedangkan beberapa bahan kimia lain seperti endorfin justru bisa mengurangi frekuensi menguap. Beberapa studi menunjukkan manfaat dari menguap yaitu dapat menstabilkan tekanan di kedua sisi gendang telinga atau mirip dengan peregangan, melenturkan otot dan sendi pada tubuh serta meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.

Menguap merupakan hal alami yang wajar, meskipun beberapa studi mengatakan menguap memiliki beberapa manfaat tapi jangan keterusan dan keseringan menguap terlebih lagi di tempat umum, menguap harus pakai etika. Belum lagi kalau punya masalah dengan bau mulut :v
Nah, saya punya tips nih untuk teman-teman yang mau jalan sama gebetannya. Pastikan kalian dalam kondisi fit alias tidak mengantuk, karena hal tersebut akan sangat berbahaya. Bukannya makan bareng atau nonton bareng tapi jadinya malah nguap bareng :v

Semoga bermanfaat, happy blogging :)





Sumber:
http://www.yohanessurya.com/activities.php?pid=20201&id=103
http://www.merdeka.com/sehat/kenapa-menguap-seringkali-menular.html
http://health.detik.com/read/2010/04/08/133543/1334604/766/menguap-bisa-menular
http://www.tahupedia.com/content/show/324/Mengapa-Kita-Menguap-dan-Mengapa-itu-Menular

0 comments:

Post a Comment